Minggu, 12 Januari 2014

Waspada di malam hari

Maunya irit-irit




Awalnya kami  mulai dari kehidupan yang bergantung  dari makan gaji bulanan kepada usahamandiri. Dulu sewaktu masih aktif mengajar, input maupun output  sudah bisa di prediksi. Kalau gaji sekian, apa yang harus di beli dalam sebulan sudah di rencanakan diawal, bahkan belum turun gaji juga sudah ada rencana-rencana untuk belanja ini dan itu. Makanya, tiba tanggal muda semua bisa senyum. Mall, mini market, toko-toko, sampai pemilik warung kecil2an ikut ramai kami kunjungi. Singkat cerita, Uang di kantong langsung ludes tinggal beberapa lembar, untuk sesuatu yang  tak terduga di hari2 mendatang. Begitulah gambaran kehidupan kami ketika itu.

Sekarang kami harus mulai kehidupan yang baru dengan mandiri. Keadaan ini memaksa kami untuk menerapkan prinsip   “ kita harus irit “. Apalagi sekarang sudah tidak ada gaji bulanan lagi. Kebutuhan sehari-hari, mulai dari makan, belanja sayur, jajan anak, sewa rumah, pulsa listrik, air dll dari usaha mandiri. Orang bilang  “ ora obah ora mangan “ yang artinya tidak usaha berarti tidak makan, sehari tidak jualan rasanya ada yang hilang dari kami.

Penghasilan tidak tetap membuat  kami harus hemat, irit, mesti tidak boleh pelit; Karena  usaha yang masih merintis belum tentu mendapat untung, bisa inpass  itu sudah termasuk keuntungan buat  kami. Begitu juga sesekali kami masih  bisa mengajak keluarga jalan-jalan kepantai atau tempat  - tempat rekreasi  atau memberi jatah  uang  jajan untuk anak-anak.


Kenangan yang paling berkesan buat kami  adalah di hari selasa tanggal 31 desember 2013 kemarin.  Uang yang kami irit-irit di gondol maling karena berhasil membuka pintu jendela kamar kami, dompet dan tas kulit kenang-kenangan dari medan di bawa kabur, kamera digital yang biasa kami pakai narsis juga di sikatnya. E-KTP dalam dompet tidakdi kembalikan juga. Setelah kejadian itu, kami hanya bisa ngelus-elus dada.

14 komentar:

  1. Innalillah ... sabar ya, Mas. Semoga diberi gantinya yang lebih bermanfaat :)

    Terima kasih sudah ikutan GA Irit tapi bukan pelit. Sudah tercatat sebagai peserta.

    BalasHapus
  2. Yang sabar ya..
    Semua pasti akan ada balasannya..

    Semoga sukses GA-nya.
    Salam..

    BalasHapus
  3. Amiin, terimakasih kunjungannya semoga bukan kunjungan yang terakhir

    BalasHapus
  4. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun..

    Semoga ada hikmah di balik musibah itu :)
    Sabar ya ustad..

    BalasHapus
    Balasan
    1. na'am ust syukron 'ala hadzihi az ziyaroh

      Hapus
  5. Balasan
    1. terima kasih kunjungan dan sarannya ya.....

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah... yang sabar ya... semoga sukses GAnya...
      Inna ma'al 'usri yusro

      Hapus
  7. innalillah... yang sabar ya mas... memang ngga mungkin kembali, tapi semoga identitas dirinya dikembalikan kayak KTP

    BalasHapus
  8. lama ga ngeblog, nih. kangen, tauuu ... :p

    sabar yaaa, semoga lekas diganti dengan rezeki yang lebih besar. ini ujian kesabaran :')

    BalasHapus
  9. Setiap kehilangan, tentulah membuahkan hikmah tersendiri bagi kita. Setidaknya membuat kita agar terus bersyukur dan ikhlas. Semoga yang hilang mendapatkan ganti yang lebih barokah dan bermanfaat :)

    Terima kasih sudah berbagi di giveaway irit tapi bukan pelit :)

    Salam,
    @apikecil

    BalasHapus
  10. Semoga yg hilang mendapat ganti yang lebih baik...sukses dg GA-nya..

    BalasHapus