Kamis, 21 Februari 2013

PENYESALAN.......


AMALKU SAYANG, AMALKU MELAYANG

Banyak orang bilang “ Yang penting kan beramal, urusan mau di terima atau tidak itu urusan Allah bukan urusanmu !“.
Begitulah Ahmad mendengar jawaban tetangganya yang ia bilangin, agar seorang muslim itu tidak asal-asalan dalam beramal.
Memang, menyadarkan seorang muslim agar  mau beramal itu tidak mudah. Banyak orang muslim yang hanya sekedar dalam batas muslim KTP saja. Ia tidak pernah melaksanakan perintah Allah dan Rosul-Nya. Syahadat tauhid dan Syahadat Rosul ( rukun islam yang pertama ) pun,  tak pernah dia fahami  isi kandungan dan maknanya. Sholat sehari lima waktu, yang sudah menjadi simbul ciri khas seorang muslim pun ia tinggalkan dengan sengaja.  Ia tidak pernah sholat dalam sejarah kehidupannya, kecuali sewaktu praktek pelajaran agama di sekolah dasar dulu, itupun tidak setiap saat di praktekkan. Apalagi amalan-amalan  seperti puasa,zakat, haji dan yang lainnya.
Kehidupan dunia serta penghias-penghiasnya, telah menjadi tujuan utama dalam kehidupan, melalaikan kehidupan yang telah menantinya di waktu yang  akan datang, tapi entah kapan waktunya, hanya Allah saja yang mengetahuinya.  Ia tidak ingat Allah,  yang telah mengeluarkanya dari perut ibunya dalam keadaan telanjang bulat.  Jika di buang di tempat sampahpun ia tak kuasa untuk melawannya.
 Setelah hari demi hari berlalu, ia tidak pernah tahu siapa yang telah menjadikannya semakin besar, kuat, ia juga tidak pernah tahu siapakah yang telah memberinya nikmat untuk bisa bernafas. Bahkan tanda-tanda yang ada di sekitarnya pun belum bisa  menyadarkannya. Semut-semut kecil yang selalu hilir mudik dalam rumahnya, nyamuk-nyamuk kecil yang selalu hinggap dalam tubuhnya, tumbuh-tumbuhan yang selalu menyertai dalam kehidupannya, buah-buahan yang  ia tancapkan dalam tanah hingga ia memetiknya, sampai orang – orang di sekitarnya satu demi satu berangkat pergi ke dalam tanah yang takkan pernah kembali lagi; semua itu tak pernah membuatnya sadar untuk beramal.
Disisi lain, alhamdulillah banyak diantara mereka, yang telah mendapatkan hidayah dan petunjuk untuk beramal, semangat mengumpulkan bekal tuk kehidupan lain yang telah menantinya. Kerana mereka  sadar, di dunia inilah ladang untuk beramal, dan di sana nanti ( di akhirat ) ladang penghisaban dan pertanggung jawaban amal-amal mereka  di dunia ini.
Sehingga,  tak ada waktu yang mereka lalui, kecuali mereka  manfaaatkan untuk beramal agar mendapatkan keridhoan Allah dan pahala dari-Nya, yang kelak akan mengantarkan mereka  ke dalam surga yang  kekal abadi akan nikmat-nikmatnya.
Dengan kesadarannya ini, timbullah semangat jiwa yang berapi-api untuk mempelajari syahadat, melaksanakan sholat, puasa, zakat, haji maupun disiplin ilmu-ilmu islam yang yang lain, kemudian mereka  dakwahkan ke seluruh umat manusia di alam semesta ini. Tapi sayang, mereka  memahami makna syahadat, sholat, puasa, zakat, haji, dan yang lainnya, hanya dengan menyandarkan pada akal pikiran semata, atau dengan melalui mimpi-mimpinya atau mimpi-mimpi sang gurunya. Mereka akan memperjuangkannya mati-matian,walaupun itu tidak sesuai dengan sumber hukum islam yang aslinya,kemudian mereka tetap meyakini  akan kebenaranya. Padahal itu juga tidak ada contohnya dari Sang Suri Tauladan umat ini ( Nabi Muhammad SAW ) ataupun para sahabat2nya,  mereka tetap meyakini bahwa itu muthlak kebenaranya.
Tak heran lagi, sekarang bermacam – macam bentuk amalan bermunculan, ada yang begini, ada yang begitu ada lagi yang lain-lain, yang sebenarnya bertolak belakang  dengan Al Qur’an maupun Hadist Rosululloh yang shohih.
Dari sini teman, coba fahami betul-betul firman Allah dalam surat Al Furqon : 23 ini
وقدمنا إلى ماعملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا ( الفرقان : 23 )
“  Dan Kami ( Allah ) hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”. ( QS. Al Furqon : 23 ).
Abul Fidak Ibnu Kastir mengatakan dalam tafsirnya ( Tafsir Ibnu Kastir ) “ Ini terjadi pada hari kiamat,  tatkala Allah Azza Wajalla menghisab hamba-Nya atas amal yang mereka lakukan di dunia, ( amal yang baik maupun yang buruk ).  Allah Azza Wajalla menjelaskan bahwa orang-orang  musyrik tidak akan mendapatkan hasil dari amal ( kebaiakan ) yang mereka lakukan di dunia, dimana mereka mengira amal tersebut bisa menyelamatkannya di akhirat ( dari api neraka dan memasukkannya ke dalam surga ).
Hal itu terjadi karena mereka kehilangan syarat-syarat  amal  yaitu ikhlas dan mutaba’ah ( mengikuti contoh Rosulullah SAW ), setiap amal yang tidak di landasi dengan syarat-syarat tadi maka batil “.
Teman !, mereka banyak beramal kebaikan di dunia, yang dengannya berharap mendapatkan keridhoan Allah Azza Wajalla dan pahala darinya, kemudian di masukkan ke surga. Tapi, itu ternyata sebatas harapan semu. Karena, tatkala hari penghisaban di akhirat nanti, mereka mendapatkan amal –amal kebaikan yang mereka lakukan ternyata menjadi debu-debu yang berterbangan, tidak bermanfaat baginya.
Maka, prinsip “ Yang penting kan beramal, urusan mau di terima atau tidak itu urusan Allah bukan urusanmu !“. itu adalah sebuah prinsip yang justru akan menjauhkan mereka dari surga, dan mendekatkan dirinya  ke dalam jurang api neraka.
Wahai teman ! bila kita tidak ingin amal-amal kita menjadi debu yang berterbangan, landasilah amalan-amalan kita dengan ikhlas dan mengikuti contoh dari Rosulullah SAW. Kalau ada contoh, amalkan dengan ikhlas, bila tidak ada contoh, tinggalkan dengan ikhlas.
Akhirnya, doaku untuk kalian semua, semoga kita termasuk orang-orang  yang mendapatkan hidayah tentang masalah ini. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar